Pages

Kamis, 04 September 2014

kayu sebagai sumber energi

Kelebihan kayu sebagai sumber energi Sebagai salah satu bahan bakar yang banyak dipakai oleh penduduk dunia, kayu memiliki banyak keunggulan sebagai bahan bakar yaitu antara lain: Renewable. Kayu sebagai bahan bakar terbarukan karena bisa diproduksi kembali Energi yang dihasilkan tinggi namun emisi rendah (dibawah 0.1 kg CO2/kWh) Bahan Bakar Karbon Netral . Kayu dari pohon sebagai bahan bakar alternatif selain minyak bumi dan batubara juga sekaligus berfungsi penyerap karbon. Penggunaan bahan bakar kayu sebagai bahan bakar dapat menumbuhkan minat masyarakat menghijaukan lahan sehingga tercipta lingkungan yang lebih baik. Nilai dari diversifikasi produk olahan kayu atau limbah kayu menjadi kayu energi akan meningkatkan pendapatan baik tingkat perusahaan maupun masyarakat. Nilai Ekonomi Kayu sebagai Alternatif Bahan Bakar Sebagian besar perusahaan dan masyarakat menanam pohon untuk dimanfaatkan kayunya. Nilai ekonomis kayu dari pemanenan pohon telah banyak diketahui oleh semua kalangan, namun nilai ekonomi kayu untuk bahan bakar misalnya pellet kayu (wood pellet) belum diketahui. Berikut perbandingan antara nilai ekonomi kayu dan pellet kayu (kayu untuk energi). Kegiatan penebangan pada hutan yang akan dipanen untuk kayu pertukangan sebagian besar dilakukan dengan siste tebang pilih atau tebang habis. Misalnya pada lahan yang ditanami Acacia mangium (Akasia), dengan jarak tanam 3 x 3 meter, dalam satu hektar lahan bisa ditanami sekitar 1100 pohon akasia. Dengan asumsi satu pohon Akasia menghasilkan 1 m3 kayu dengan nilai jual 1 m3 akasia = Rp. 800.000,- / m3, maka, nilai ekonomi dari kayu pertukangan untuk 1 ha adalah Rp. 880.000.000,-(dalam 10-12 thn) Bagaimana dengan nilai ekonomi pelet kayu? Asumsinya bila 1 pohon akasia menghasilkan 1 m3 kayu tebangan dimana berasal dari 75% dari keseluruhan pohon akasia, maka 25% atau sebesar 0,33 m3 merupakan hasil sampingan dari tebangan pohon tersebut. Apabila dalam 8 tahun pohon akasia yang di tebang adalah 20% dari keseluruhan batang pohon akasia per ha sama dengan 220 pohon akasia maka hasil sampingannya adalah 72,6 m3. Jika berat jenis akasia adalah 450 kg / m3 maka dalam satu periode penebangan akasia produk hasil sampingnya sebesar 32,67 ton. Misalnya harga pasar 1 ton pellet kayu di pasar AS berkisar antara US$ 200 – 250 / ton maka dengan asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp. 9000,- nilai ekonomi yang diketahui adalah sekitar Rp. 58.806.000,-. Untuk memudahkan penggunaan pelet kayu di masyarakat, ada teknologi kompor biomassa. Kompor biomassa yang salah satunya dibuat oleh Universitas Brawijaya ini sangat irit bahan bakar. Untuk kebutuhan masak sehari-hari hanya membutuhkan potongan kayu kering sebanyak 700 gram, sehingga mampu mensubstitusi penggunaan LPG atau minyak tanah. (Sumber : “Pengelolaan Hutan Berbasis Rakyat Lestari Dalam Rangka Penguatan Ekonomi Rakyat” oleh Ir. Arifin Lambaga, MSE, PT. Mutuagung Lestari) Apa itu Pelet Kayu (Wood Pellet) Ternyata dari pemanenan pohon, ada hasil sampingan yang nilainya cukup besar salah satunya berupa pelet kayu. Pelet kayu adalah hasil samping dari penebangan pohon seperti dedaunan, ranting, kulit kayu bekas tebangan, serta gergajian. Pelet kayu digunakan tidak saja sebagai bahan bakar rumah tangga, tapi bisa juga untuk pembangkit listrik (PT. Mutu Agung Lestari) Pelet kayu juga merupakan bahan bakar yang “bersih” (ramah lingkungan), bahan bakar CO2 netral, terbuat dari limbah kayu (serbuk gergajian atau cacahan kayu), dikompres dengan tekanan tinggi tanpa menggunakan perekat atau zat aditif tambahan. Bentuknya silinder dengan diameter 6-10 mm dan panjang 10-30 mm. Sebagai bahan bakar berstandar tingggi dan kepadatan tinggi, pellet memiliki biaya transportasi yang efisien dan pengoperatian otomatis untuk pemanas dan energi dari rumah pribadi hingga ke skala instalasi energy yang besar. Pohon yang bisa digunakan sebagai bahan baku pelet kayu berasal dari jenis pohon cepat tumbuh seperti pinus, kaliandra, akasia, sengon dan lain-lain. Menurut Puspijak (2013) Pelet kayu berbentuk silindris dengan diameter 6-10 mm dan panjang 1-3 cm dan memiliki kepadatan rata-rata 650 kg/m3 atau 1,5 m3/ton. Pelet kayu dihasilkan dari berbagai bahan biomassa, terutama limbah serbuk gergaji daripabrik penggergajian kayu dan serbuk limbah veneer dari pabrik kayu lapis atau palet daur ulang. Pelet kayu menghasilkan rasio panas yang relatif tinggi antara output dan input-nya (19:1 hingga 20:1) dan energi sekitar 4,7kWh/kg. Proses pembuatan Pelet kayu cukup sederhana. Bahan baku dikeringkan sampai kadar air maksimal 10% selanjutnya dipres dengan tekanan tinggi dan dipanaskan pada suhu sekitar 120-1800 oC, untuk proses kering. Sedangkan untuk proses basah bisa menggunakan bahan baku dengan kadar air tinggi, ditambah tepung kanji dan air kemudian dipres dengan tekanan tinggi tanpa pemanasan. Kedua sistem ini dilakukan secara kontinu. (Sumber : Pelet Kayu, Bahan Bakar Alternatif Rendah Emisi) Secara ringkas beberapa keunggulan pelet dibandingkan bahan bakar lain adalah sebagai berikut : - Volume lebih kecil untuk dikirim dan disimpan - Bentuk dan kadar air konsisten - Gas yang dapat menguap dapat digunakan untuk kompor dan alat masak - Sedikit abu dan emisi gas - Pelet itu kering dan dapat disimpan tanpa kerusakan - Aliran seperti sebuah cairan dan dapat digunakan untuk mesin otomatis - Mudah penangangannya - Mudah penyalaannya Manfaat Pelet Kayu untuk Masyarakat Pelet kayu selain ramah lingkungan juga membawa dampak bagi masyarakat. Pelet kayu dapat meningkatkan dan mendukung pembangunan hutan berbasis masyarakat (community forest). Hutan komunitas akan tumbuh dan berkembang bila produk pelet kayu bisa diproduksi dan dipasarkan dengan dukungan berbagai pihak. Produksi dan industri Pelet kayu akan mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat di sekitar hutan, karena adanya produk sampingan yang sangat diminati dan bernilai ekonomi tinggi. Selain itu hasil hutan non kayu masih dapat dipertahankan sehingga komunitas lokal masih bisa memanen hasil hutan lain. Menurut data dari JAVLEC (2011) dalam Workshop Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Lestari (PHBML) di Bangkalan 2011, Indonesia memiliki potensi hutan komunitas seluas 22.9 juta hektar. Kondisi eksisting hutan komuniti yang ada baru mencapai 4.29 juta hektar. Berkembangnya industri pelet kayu bisa mendorong semakin meningkatnya partisipasi rakyat untuk membangun dan mengelola hutan berbasis komunitas. Prospek Pelet Kayu Mengingat data dan fakta yang menyatakan bahwa pellet kayu sudah dijadikan sebagai bahan bakar yang dikonsumsi luas dalam skala global, maka prospeknya tentu akan semakin meningkat. Uni Eropa, sebagai pengguna terbesar pellet kayu, akan mensyaratkan Negara-negara anggotanya untuk menggerakkan 20% listrik dari energy terbarukan pada tahun 2020. Berdasarkan data dari AEBIOM and Member State sector organisations dalam situs ihb.de, kebutuhan pellet kayu Uni Eropa dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun 2013, total kebutuhan pellet kayu Negara-negara Eropa mencapai 16 juta ton (sumber disini). Harga pellet kayu berkisar USD 120 per metric ton di Pasar Eropa. Adapun penyedia terbesar pelet kayu saat ini adalah Siberia/Rusia. Indonesia bisa menjadi penyedia potensial berikutnya dengan dukungan dari pemerintah Harapan Masa Depan Pemanfaatan kayu sebagai sumber energi sangat prospektif karena ketersediaan bahan baku yang melimpah (limbah kayu/biomasa), peluang pasar ekspor yang sangat luas dan nilai ekonomi sangat menjanjikan. Pengembangan energi alternatif terbarukan khususnya pellet kayu sebagai sumber energi akan memberi kontribusi positif bagi upaya mitigasi perubahan iklim dunia. Sebagai energi terbarukan, ketersediaan bahan bakar dari biomas atau limbah kayu memiliki jaminan kelestarian. Jika selama ini limbah pemanenan kayu dan limbah pengolahan kayu belum dimanfaatkan maksimal, maka dengan semakin meroketnya harga minyak bumi dan bahan bakar lainnya, penggunaan pelet kayu yang relatif murah dan tidak sarat dengan teknologi tinggi akan menjadi pilihan utama dan digunakan luas di berbagai belahan dunia bahkan sampai ke pedesaan. Kayu sebagai sumber energi terbarukan, ramah lingkungan dan bernilai ekonomis akan mampu berkibar di masa depan sebagai bahan bakar alternatif yang prospektif. Bila kita menatap masa kayu energi yang cerah, kita juga akan berharap hutan pun semakin meningkat luasnya sehingga bumi bisa memulihkan diri dan semakin hijau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Sample text

Sample Text

Sample Text

 
Blogger Templates